Di Negeri Kepulauan, Keterlambatan SAR Bisa Berujung Kematian

Selasa, 3 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikrar muhamad :
Kabid Kemaritiman HMI Cabang Ternate

Ikrar muhamad : Kabid Kemaritiman HMI Cabang Ternate

Maluku Utara adalah wilayah kepulauan yang hidup dan bergerak di atas laut. Bagi masyarakatnya, laut bukan pilihan alternatif, melainkan satu-satunya jalur penghubung antar pulau. Setiap hari, ribuan warga mempertaruhkan keselamatan di atas kapal dan speedboat untuk bekerja, berdagang, bersekolah, hingga berobat. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan pelayaran seharusnya menjadi urusan serius negara, bukan sekadar formalitas administratif.

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan kegagalan yang berulang. Dalam beberapa pekan terakhir, kecelakaan laut kembali terjadi dan ironisnya bukan semata akibat cuaca ekstrem. Kapal dan speedboat yang sudah tidak layak operasi tetap dibiarkan berlayar. Pengawasan longgar, standar keselamatan diabaikan, dan nyawa manusia menjadi taruhan murah. Ketika negara membiarkan alat transportasi laut yang tak memenuhi syarat beroperasi, maka kecelakaan bukan lagi musibah, melainkan kelalaian.

Baca Juga:  Fenomena Perempuan Tak Lagi Kritis: Memilih Pasangan Berdasarkan Gelar Atau Titel

Keberadaan pos SAR di Ternate, Morotai, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan sering dijadikan alasan bahwa negara telah hadir. Padahal masalah utama bukan sekadar ada atau tidak, melainkan seberapa cepat dan seberapa dekat layanan penyelamatan itu dengan masyarakat. Di wilayah kepulauan yang jarak antarpulau berjauhan, keberadaan pos SAR yang terpusat justru membuat respon penyelamatan berjalan lambat dan tidak efektif.

Kasus tenggelamnya speedboat di Halmahera Selatan menjadi contoh telanjang. Meski wilayah tersebut memiliki pos SAR, proses evakuasi tetap memakan waktu lama karena lokasi kejadian jauh dari pusat layanan. Dalam kondisi darurat di laut, keterlambatan satu atau dua jam saja bisa menjadi garis pemisah antara hidup dan mati.

Baca Juga:  PPPK “Siluman”? Pegawai Tak Pernah Bertugas di RS Pratama Bisui, Dugaan Pelanggaran Disiplin Menguat

Fakta ini menegaskan satu hal: kehadiran SAR yang terlambat sama artinya dengan menyaksikan nyawa melayang tanpa daya.

Situasi ini menunjukkan bahwa distribusi pos SAR di Maluku Utara masih timpang dan jauh dari ideal. Wilayah-wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi dan akses ekstrem justru minim unit siaga. Negara tidak bisa terus berlindung di balik keterbatasan anggaran, sementara korban terus berjatuhan.

Penambahan pos atau unit siaga SAR di pulau-pulau strategis adalah kebutuhan mendesak, bukan pemborosan.

Di daerah kepulauan, waktu adalah segalanya. Setiap menit di laut menentukan nasib manusia. Karena itu, kehadiran SAR harus dekat dengan masyarakat pesisir, bukan hanya berada di pusat-pusat kota. Negara tidak boleh menunggu tragedi demi tragedi untuk bertindak. Keselamatan warga seharusnya didahulukan, bukan dihitung dengan logika efisiensi semata.

Baca Juga:  TIDAR Halsel Ikut Perang Lawan Dugaan Mafia BBM Subsidi, Siapkan Pengawasan Ketat Di Babang

Kecelakaan laut di Maluku Utara harus menjadi momentum evaluasi total. Pemerintah wajib menertibkan kelayakan kapal, memperketat pengawasan pelayaran, dan memperluas jangkauan kesiapsiagaan SAR. Laut adalah nadi kehidupan masyarakat kepulauan. Jika negara gagal menjaganya, maka setiap perjalanan laut akan terus menjadi pertaruhan nyawa dan itu adalah kegagalan yang tidak bisa lagi ditoleransi.

Editor : (Red/Pandi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan
DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan
BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta
Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 
Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 
Resmob Polres Halsel Tangkap Terduga Pelaku Pencurian, Dua Motor Diamankan Dan Kasus Dikembangkan
TIDAR Halsel Ikut Perang Lawan Dugaan Mafia BBM Subsidi, Siapkan Pengawasan Ketat Di Babang
Dituding Tampung Solar Subsidi, Pemilik Gudang Babang Angkat Bicara

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:35

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:53

DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan

Senin, 13 Juli 2026 - 06:13

BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:35

Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:55

Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 

Berita Terbaru

BacaPost.Com

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:36