Perkembangan pendidikan dan modernisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satu perubahan yang cukup menonjol adalah meningkatnya perhatian terhadap gelar akademik dan titel profesi sebagai simbol keberhasilan seseorang. Dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan, muncul fenomena di mana sebagian perempuan menjadikan gelar atau titel sebagai pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pilihan tersebut merupakan bentuk rasionalitas modern, atau justru menunjukkan berkurangnya sikap kritis dalam menilai kualitas seseorang secara utuh?
Secara umum, gelar akademik memang dapat mencerminkan tingkat pendidikan, kompetensi, dan pencapaian seseorang. Namun, ketika gelar dijadikan ukuran utama dalam menentukan pasangan, terdapat kecenderungan mengabaikan aspek-aspek lain yang jauh lebih fundamental, seperti integritas, tanggung jawab, kematangan emosional, etika, dan akhlak. Akibatnya, penilaian terhadap seseorang lebih didasarkan pada simbol status daripada kualitas kemanusiaannya.
Dalam perspektif teori hegemoni yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, fenomena ini dapat dipahami sebagai hasil dominasi nilai-nilai sosial yang diterima masyarakat secara tidak sadar. Gelar akademik diposisikan sebagai simbol kesuksesan dan mobilitas sosial, sehingga banyak orang menganggap bahwa pasangan ideal adalah mereka yang memiliki pendidikan tinggi atau status profesi tertentu. Pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi semacam “kebenaran umum” yang jarang dipertanyakan secara kritis.
Menurut Mansour Fakih, gender bukanlah perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, melainkan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya, ekonomi, politik, dan sejarah. Dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Fakih menjelaskan bahwa berbagai ketimpangan sosial muncul karena masyarakat membangun standar tertentu mengenai peran dan posisi laki-laki maupun perempuan.
Jika dianalisis melalui perspektif tersebut, kecenderungan memilih pasangan berdasarkan gelar tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial mengenai status dan kesuksesan. Selama bertahun-tahun, laki-laki ditempatkan sebagai pencari nafkah utama sekaligus simbol keberhasilan keluarga. Akibatnya, perempuan sering didorong untuk mencari pasangan yang memiliki posisi sosial tinggi sebagai jaminan keamanan ekonomi maupun pengakuan sosial.
Dalam kondisi demikian, pilihan terhadap laki-laki yang memiliki gelar atau titel tinggi sebenarnya bukan semata-mata keputusan individual, melainkan hasil dari proses sosial yang berlangsung panjang. Masyarakat secara tidak langsung mengajarkan bahwa nilai seorang laki-laki diukur melalui pendidikan, jabatan, dan pendapatan. Sementara itu, perempuan kerap dianggap berhasil ketika mampu memperoleh pasangan dengan status sosial yang tinggi.
Mansour Fakih juga menjelaskan bahwa transformasi sosial merupakan upaya mengubah struktur dan pola pikir yang melahirkan ketidakadilan maupun ketimpangan dalam masyarakat. Dalam konteks pemilihan pasangan, transformasi sosial menuntut perubahan cara pandang terhadap makna keberhasilan dan kualitas manusia.
Modernisasi memang telah meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Namun, peningkatan pendidikan tidak selalu diikuti oleh tumbuhnya kesadaran kritis. Dalam beberapa kasus, pendidikan justru menjadi alat reproduksi status sosial. Gelar tidak lagi dipahami sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai simbol prestise yang menentukan nilai seseorang di ruang sosial, termasuk dalam relasi perkawinan.
Transformasi sosial yang dicita-citakan Fakih adalah terciptanya relasi yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan. Dalam relasi yang setara, seseorang memilih pasangan berdasarkan kualitas personal, kesamaan visi hidup, komitmen, karakter, dan kemampuan membangun kehidupan bersama, bukan semata-mata berdasarkan status sosial yang dilekatkan oleh masyarakat.
Fenomena perempuan yang lebih tertarik pada gelar atau titel pasangan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai kesalahan perempuan. Fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara budaya patriarki, sistem pendidikan, stratifikasi sosial, serta pengaruh media yang terus mengagungkan simbol-simbol kesuksesan.
Karena itu, kritik seharusnya tidak diarahkan kepada perempuan sebagai individu, melainkan kepada sistem sosial yang membentuk standar keberhasilan yang sempit. Sikap kritis diperlukan agar masyarakat tidak terjebak pada simbol formal seperti gelar akademik, tetapi mampu melihat kualitas manusia secara lebih komprehensif.
Melalui perspektif gender dan transformasi sosial Mansour Fakih, kecenderungan memilih pasangan berdasarkan gelar atau titel dapat dipahami sebagai produk konstruksi sosial yang menghubungkan status pendidikan dengan nilai seseorang. Gelar memang penting sebagai indikator pendidikan dan kompetensi, tetapi tidak cukup untuk menjamin kualitas hubungan maupun kebahagiaan keluarga.
Oleh karena itu, transformasi sosial perlu mendorong masyarakat untuk lebih menghargai karakter, integritas, tanggung jawab, kematangan emosional, dan kesetaraan sebagai dasar utama dalam membangun relasi serta memilih pasangan hidup. Dengan demikian, pilihan pasangan tidak lagi didasarkan pada simbol status semata, melainkan pada kualitas kemanusiaan yang lebih substansial dan bermakna.
Editor : Red/Pandi



















