Fenomena Perempuan Tak Lagi Kritis: Memilih Pasangan Berdasarkan Gelar Atau Titel

Senin, 22 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : FURKAN ANAS, WASEK PTKP KOMISARIAT AL-JUFRI, CABANG BACAN

Oleh : FURKAN ANAS, WASEK PTKP KOMISARIAT AL-JUFRI, CABANG BACAN

Perkembangan pendidikan dan modernisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satu perubahan yang cukup menonjol adalah meningkatnya perhatian terhadap gelar akademik dan titel profesi sebagai simbol keberhasilan seseorang. Dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan, muncul fenomena di mana sebagian perempuan menjadikan gelar atau titel sebagai pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pilihan tersebut merupakan bentuk rasionalitas modern, atau justru menunjukkan berkurangnya sikap kritis dalam menilai kualitas seseorang secara utuh?

Secara umum, gelar akademik memang dapat mencerminkan tingkat pendidikan, kompetensi, dan pencapaian seseorang. Namun, ketika gelar dijadikan ukuran utama dalam menentukan pasangan, terdapat kecenderungan mengabaikan aspek-aspek lain yang jauh lebih fundamental, seperti integritas, tanggung jawab, kematangan emosional, etika, dan akhlak. Akibatnya, penilaian terhadap seseorang lebih didasarkan pada simbol status daripada kualitas kemanusiaannya.

Dalam perspektif teori hegemoni yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, fenomena ini dapat dipahami sebagai hasil dominasi nilai-nilai sosial yang diterima masyarakat secara tidak sadar. Gelar akademik diposisikan sebagai simbol kesuksesan dan mobilitas sosial, sehingga banyak orang menganggap bahwa pasangan ideal adalah mereka yang memiliki pendidikan tinggi atau status profesi tertentu. Pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi semacam “kebenaran umum” yang jarang dipertanyakan secara kritis.

Baca Juga:  Ansor, Banser, Dan Karang Taruna Jatimekar Gelar Fogging Cegah DBD

Menurut Mansour Fakih, gender bukanlah perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, melainkan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya, ekonomi, politik, dan sejarah. Dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Fakih menjelaskan bahwa berbagai ketimpangan sosial muncul karena masyarakat membangun standar tertentu mengenai peran dan posisi laki-laki maupun perempuan.

Jika dianalisis melalui perspektif tersebut, kecenderungan memilih pasangan berdasarkan gelar tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial mengenai status dan kesuksesan. Selama bertahun-tahun, laki-laki ditempatkan sebagai pencari nafkah utama sekaligus simbol keberhasilan keluarga. Akibatnya, perempuan sering didorong untuk mencari pasangan yang memiliki posisi sosial tinggi sebagai jaminan keamanan ekonomi maupun pengakuan sosial.

Dalam kondisi demikian, pilihan terhadap laki-laki yang memiliki gelar atau titel tinggi sebenarnya bukan semata-mata keputusan individual, melainkan hasil dari proses sosial yang berlangsung panjang. Masyarakat secara tidak langsung mengajarkan bahwa nilai seorang laki-laki diukur melalui pendidikan, jabatan, dan pendapatan. Sementara itu, perempuan kerap dianggap berhasil ketika mampu memperoleh pasangan dengan status sosial yang tinggi.

Baca Juga:  Dituding Tampung Solar Subsidi, Pemilik Gudang Babang Angkat Bicara

Mansour Fakih juga menjelaskan bahwa transformasi sosial merupakan upaya mengubah struktur dan pola pikir yang melahirkan ketidakadilan maupun ketimpangan dalam masyarakat. Dalam konteks pemilihan pasangan, transformasi sosial menuntut perubahan cara pandang terhadap makna keberhasilan dan kualitas manusia.

Modernisasi memang telah meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Namun, peningkatan pendidikan tidak selalu diikuti oleh tumbuhnya kesadaran kritis. Dalam beberapa kasus, pendidikan justru menjadi alat reproduksi status sosial. Gelar tidak lagi dipahami sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai simbol prestise yang menentukan nilai seseorang di ruang sosial, termasuk dalam relasi perkawinan.

Transformasi sosial yang dicita-citakan Fakih adalah terciptanya relasi yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan. Dalam relasi yang setara, seseorang memilih pasangan berdasarkan kualitas personal, kesamaan visi hidup, komitmen, karakter, dan kemampuan membangun kehidupan bersama, bukan semata-mata berdasarkan status sosial yang dilekatkan oleh masyarakat.

Fenomena perempuan yang lebih tertarik pada gelar atau titel pasangan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai kesalahan perempuan. Fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara budaya patriarki, sistem pendidikan, stratifikasi sosial, serta pengaruh media yang terus mengagungkan simbol-simbol kesuksesan.

Baca Juga:  SEMAHABAR Ternate Gelar Halal Bihalal, Dorong Peran Mahasiswa Dalam Isu Daerah

Karena itu, kritik seharusnya tidak diarahkan kepada perempuan sebagai individu, melainkan kepada sistem sosial yang membentuk standar keberhasilan yang sempit. Sikap kritis diperlukan agar masyarakat tidak terjebak pada simbol formal seperti gelar akademik, tetapi mampu melihat kualitas manusia secara lebih komprehensif.

Melalui perspektif gender dan transformasi sosial Mansour Fakih, kecenderungan memilih pasangan berdasarkan gelar atau titel dapat dipahami sebagai produk konstruksi sosial yang menghubungkan status pendidikan dengan nilai seseorang. Gelar memang penting sebagai indikator pendidikan dan kompetensi, tetapi tidak cukup untuk menjamin kualitas hubungan maupun kebahagiaan keluarga.

Oleh karena itu, transformasi sosial perlu mendorong masyarakat untuk lebih menghargai karakter, integritas, tanggung jawab, kematangan emosional, dan kesetaraan sebagai dasar utama dalam membangun relasi serta memilih pasangan hidup. Dengan demikian, pilihan pasangan tidak lagi didasarkan pada simbol status semata, melainkan pada kualitas kemanusiaan yang lebih substansial dan bermakna.

Editor : Red/Pandi

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan
DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan
BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta
Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 
Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 
Resmob Polres Halsel Tangkap Terduga Pelaku Pencurian, Dua Motor Diamankan Dan Kasus Dikembangkan
TIDAR Halsel Ikut Perang Lawan Dugaan Mafia BBM Subsidi, Siapkan Pengawasan Ketat Di Babang
Dituding Tampung Solar Subsidi, Pemilik Gudang Babang Angkat Bicara

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:35

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:53

DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan

Senin, 13 Juli 2026 - 06:13

BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:35

Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:55

Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 

Berita Terbaru

BacaPost.Com

Penampilan Yang Ditunjukkan SSB Tomara Mengunci Juara Satu

Minggu, 23 Agu 2026 - 13:06

BacaPost.Com

Pemda Halbar Respon Cepat Masalah Sengketa Lahan Di Tosoa

Minggu, 23 Agu 2026 - 05:47