Kehidupan masyarakat Desa Kawasi, Pulau Obi, kini mengalami lompatan besar. Perpindahan warga ke Permukiman Baru Desa Kawasi bukan sekadar relokasi, melainkan perubahan nyata yang langsung menyentuh kebutuhan paling mendasar: listrik dan air bersih gratis selama 24 jam tanpa henti.
Fasilitas tersebut menjadi penanda babak baru bagi warga Kawasi setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan utilitas di pemukiman lama. Infrastruktur yang tertata, distribusi yang stabil, serta pelayanan tanpa biaya telah mengubah wajah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara signifikan.
Dampak positif itu dirasakan langsung oleh warga. Yusdin Ode Atia, salah satu warga yang telah menetap di permukiman baru, mengakui adanya geliat ekonomi yang semakin terasa sejak kepindahannya.(03/02/2026)
“Sekarang kampung benar-benar hidup. Pasar sudah ramai sejak pagi, usaha-usaha rumahan mulai tumbuh, warung makan bermunculan. Dulu anak-anak muda harus keluar kampung untuk cari kerja, sekarang peluang itu sudah ada di sini,” ungkap Yusdin.
Ia menilai kehadiran sektor industri di lingkar tambang telah memberikan efek domino yang nyata bagi perekonomian lokal, terutama ketika ditopang oleh infrastruktur dasar yang memadai dan berkelanjutan.
“Infrastruktur yang terjamin 24 jam adalah fondasi utama. Dengan listrik dan air yang stabil, warga bisa berkembang dan hidup lebih sejahtera ke depan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Reinhard Siar, warga Kawasi lainnya yang telah lama menetap di permukiman baru. Menurutnya, kenyamanan yang dirasakan saat ini nyaris mustahil diperoleh di lokasi pemukiman lama.
Ia mengungkapkan bahwa di kawasan lama, persoalan listrik dan air bukan disebabkan keterbatasan kapasitas, melainkan akibat distribusi yang semrawut dan maraknya sambungan ilegal.
“Secara kapasitas, listrik dan air itu cukup, bahkan berlebih untuk warga lokal. Tapi di kampung lama, dugaan pencurian arus oleh oknum pendatang membuat beban mesin pembangkit melonjak. Hal yang sama terjadi pada air bersih akibat sambungan ilegal,” jelas Reinhard.
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat layanan utilitas kerap terganggu dan menurunkan kualitas hidup warga asli.
Sementara itu, Fauzia Totou, warga yang telah dua tahun tinggal di permukiman baru, menegaskan bahwa kepindahannya dilakukan secara sukarela demi masa depan keluarga yang lebih layak.
“Di sini semuanya lancar. Air dan listrik hidup 24 jam dan gratis. Itu sudah sangat membantu dan meningkatkan kualitas hidup kami,” ujarnya.
Fauzia bahkan mengajak sanak saudaranya yang masih bertahan di pemukiman lama untuk segera menyusul. Ia berharap keluarganya bisa menikmati lingkungan yang lebih tertata, sehat, dan manusiawi.
“Lingkungannya rapi, fasilitas lengkap. Lebih baik berkumpul di tempat yang memberi kenyamanan dan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.(Red/Pandi)



















