PT Ormat Geotermal Indonesia selaku pengembang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Rano memaparkan rencana pengembangan proyek panas bumi di Kabupaten Halmahera Barat dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi, (23/07/2026).
Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 40 Megawatt (MW) dengan target mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2030.
President Director perusahaan, D. Remi Harimanda, dalam sambutannya mengatakan pengembangan WKP Telaga Rano mengusung visi “Menghadirkan nilai dan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.”
Menurutnya, proyek ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi terbarukan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan, perusahaan memiliki tiga misi utama, yakni mengembangkan WKP Telaga Rano sebagai sumber energi panas bumi yang andal, efisien, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan energi nasional, khususnya di Pulau Halmahera.
“Tentunya kehadiran kami ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat melalui program pemberdayaan, kemitraan strategis, dan pengembangan ekonomi lokal; serta menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam seluruh tahapan kegiatan usaha,” katanya.
Ia menuturkan, pengembangan panas bumi bukan hanya untuk menghasilkan energi bersih, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi daerah melalui pemanfaatan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan.
Menurutnya, PLTP Telaga Rano akan menyediakan pasokan listrik berbasis energi hijau yang ramah lingkungan dan mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat Pulau Halmahera dalam jangka panjang.
“Selain mendukung transisi energi nasional, proyek tersebut juga diklaim tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian terhadap aspek lingkungan sehingga keberlanjutan sumber daya panas bumi tetap terjaga,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, lanjut Remi, perusahaan memproyeksikan investasi lebih dari Rp800 miliar akan dibelanjakan di Kabupaten Halmahera Barat selama lima tahun pertama pengembangan proyek.
“Belanja tersebut mencakup penggunaan tenaga kerja lokal, penyediaan akomodasi dan konsumsi, jasa vendor serta kontraktor lokal, pengadaan material konstruksi, transportasi, hingga sektor pendukung lainnya yang diharapkan memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah,” imbuhnya.
Pihaknya berkomitmen membangun kemitraan dengan Pemerintah Daerah, lembaga adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat di sekitar wilayah proyek agar manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Lebih jauh, Helmi menambahkan, pada tahap awal pengembangan, perusahaan akan melaksanakan serangkaian survei teknis untuk mengidentifikasi potensi panas bumi di kawasan Telaga Rano.
“Survei tersebut meliputi survei geologi, geokimia, geofisika menggunakan metode Magnetotelluric (MT), pemetaan topografi dengan teknologi LiDAR, survei termal menggunakan drone, serta survei bathymetry untuk memetakan kondisi dasar perairan Telaga Rano,” tambahnya.
Helmi menuturkan, hasil survei tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan lokasi pengeboran eksplorasi.
“Dalam tahap eksplorasi, perusahaan merencanakan pengeboran tiga sumur eksplorasi guna memastikan besaran cadangan panas bumi yang tersedia,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, nilai investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar USD 200 juta, terdiri dari USD 50 juta untuk fase eksplorasi dan USD 150 juta untuk fase pembangunan. (Red/Agus)



















