Penulis kalo Ada tempat-tempat di dunia ini yang tidak hanya dikunjungi, tetapi dihampiri. Tidak sekadar dilihat, tetapi dirasakan. Tidak sekadar menjadi destinasi, tetapi berubah menjadi ruang batin seperti Umamoi dalam tulisan ini.
Umamoi bukan sekadar lokasi wisata; ia telah menjelma menjadi ruang percakapan yang tidak pernah selesai antara manusia dan dirinya sendiri. Di sana, manusia-manusia dari berbagai kelas sosial berkumpul tanpa atribut jabatan. Birokrat kehilangan formalitasnya, mahasiswa kehilangan idealismenya yang kaku, politisi kehilangan retorikanya, dan masyarakat biasa kehilangan sekat yang menahan mereka untuk berbicara. Pada akhirnya semua duduk setara sebagai pejalan.
Di tempat itu, manusia menemukan kembali siapa dirinya setelah lelah menjadi apa yang dunia harapkan.
Namun ada paradoks suara ombak yang romantis justru menjadi saksi diam dari sesuatu yang lebih memilukan: kehilangan kesadaran. Daun berjatuhan apa adanya, angin bergerak semaunya, tetapi manusia ironisnya bergerak serampangan bukan karena kebebasan, melainkan karena ketidakpedulian.
Ada etika yang hilang. Ada estetika yang tak lagi dijaga. Ada logika yang dikalahkan oleh ego. Sebab menjadi pejalan memang tidak memerlukan batas, tetapi menjadi manusia memerlukan tanggung jawab.
Pada titik ini, kalimat yang muncul menjadi benang merah:
“Kesalahpahaman adalah bentuk ketidakmampuan memaknai antara kebenaran dan pembenaran.”
Banyak yang datang ke Umamoi untuk mencari ketenangan, namun justru meninggalkan kebisingan. Banyak yang melakukan perjalanan untuk menemukan diri, tetapi justru kehilangan kesadaran akan lingkungan dan ruang sosial yang ia pijak. Mungkin benar, perjalanan bukan hanya soal jarak yang ditempuh, tetapi tentang kesadaran yang dibawa pulang.
Namun ada yang lebih pribadi lebih sunyi.
Dalam tulisan ini, ada jejak patah hati. Bukan sekadar cinta antar manusia, tetapi cinta pada tempat dan waktu yang pernah penuh tawa, percakapan, imaji, bahkan kejujuran. Kini ruang itu menjadi nostalgia dan nostalgia adalah bentuk paling lembut dari perpisahan.
Pada akhirnya, penulis menemukan dirinya berdiri di antara kebisingan yang tidak ingin ia pahami dan keheningan yang ia rindukan. Ia bertanya pada dirinya sendiri:
Ini egoisme, atau bentuk cinta paling jujur?
Pertanyaan itu menggema seperti jejak langkah yang tidak ingin hilang, tetapi juga tidak ingin diingat. Sebab dalam setiap perjalanan, selalu ada dua hal yang mustahil dihapus:
Kenangan dan sampah plastik yang berserakan di bumi.
Kalimat sederhana itu bukan sekadar candaan pahit, tetapi kritik keras yang dibungkus humor. Ia menyentil dua hal: sentimentalitas manusia dan ketidakpedulian manusia.
Salah satunya membuat hidup puitis. Yang lainnya membuat hidup tragis.
Pada akhirnya, penutup ini terasa sebagai pengingat:
“Kejahatan dan kesia-siaan ada karena orang-orang tidak lagi sibuk dengan kopi, buku, dan cinta.”
Mungkin memang benarndunia menjadi rusuh bukan karena kekurangan teknologi, debat, atau demonstrasi, tetapi karena manusia berhenti merayakan hal-hal sederhana yang membuat hidup lebih manusiawi.
Sebab menjadi pejalan bukan sekadar bergerak.
Menjadi pejalan adalah mengingat bahwa setiap langkah membawa konsekuensi baik pada alam, pada sekitar, maupun pada hati sendiri.
Dan pada titik ini, penjelajah yang patah hati bukanlah mereka yang kehilangan cinta melainkan mereka yang kehilangan arah tentang untuk apa mereka berjalan.
editor : (Pandi/Red)



















