Maluku Utara di Ambang Kehancuran Ekologis

Senin, 5 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Maluku Utara tengah dipuja sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Angka pertumbuhan ekonomi disebut melonjak hingga 98,88 persen, menempatkan Maluku Utara di peringkat lima nasional, hanya berada di bawah Bali, Kalimantan Selatan, DI Yogyakarta, dan Gorontalo. Angka ini terdengar menggiurkan bahkan membanggakan.

Namun di balik statistik itu, tersimpan ironi besar yang nyaris tak dibicarakan: pertumbuhan ekonomi Maluku Utara berdiri di atas satu kaki rapuh bernama pertambangan.

Fakta ini justru menyalakan alarm bahaya. Maluku Utara sesungguhnya dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, jauh melampaui sektor tambang. Lautnya kaya perikanan, daratannya subur untuk pertanian dan perkebunan sektor-sektor yang sejak lama menjadi identitas dan penopang hidup masyarakat Maluku Utara. Sayangnya, potensi ini seolah dibiarkan mati perlahan oleh kebijakan yang miskin visi.

Baca Juga:  DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan

Ketua Bidang SDA–Lingkungan Hidup HMI Cabang Bacan, Afrisal Kasim, menegaskan bahwa ketergantungan pemerintah provinsi pada sektor pertambangan merupakan cermin kegagalan tata kelola pembangunan.
“Pemerintah Provinsi Maluku Utara tidak seharusnya menggantungkan Pendapatan Asli Daerah hanya pada satu sektor. Ini menunjukkan pemerintah tidak kreatif dan tidak proaktif dalam mengelola kekayaan alam Maluku Utara secara berkelanjutan,” tegas Afrisal.

Ia menilai, arah kebijakan pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda Laos justru memperparah dan memperpanjang kerusakan ekologis akibat ekspansi pertambangan yang dikendalikan oleh kepentingan korporasi. Negara, dalam hal ini pemerintah daerah, terkesan absen sebagai pengendali, dan lebih memilih menjadi fasilitator bagi keserakahan modal.

Baca Juga:  Bupati Halsel Resmikan Puskesmas Indong, Pelayanan Sudah Standar Namun Alkes Masih Terbatas

Ketergantungan tunggal pada pertambangan bukan hanya berbahaya secara ekonomi, tetapi juga fatal secara ekologis. Sumber daya tambang bersifat tidak terbarukan hari ini dieksploitasi, esok lusa habis. Ketika itu terjadi, yang tersisa bukan kesejahteraan, melainkan lubang-lubang kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan kemiskinan struktural.

“Jika PAD hanya bersandar pada pertambangan, maka masyarakat Maluku Utara harus bersiap menerima kenyataan pahit: kehancuran ekologis dan krisis sosial tinggal menunggu waktu,” ujar Afrisal.

Sejarah telah memberi pelajaran pahit. Tragedi ekologis di Sumatra deforestasi masif, konflik lahan, bencana banjir, dan kemiskinan di sekitar wilayah tambang bukan cerita fiksi. Jika Maluku Utara terus memuja angka pertumbuhan tanpa memikirkan keberlanjutan, maka skenario serupa sangat mungkin terulang.

Baca Juga:  Penuh Inovasi, Akademisi Nilai Permukiman Baru Kawasi Jadi Referensi Hunian Di Maluku Utara

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: untuk siapa pertumbuhan ekonomi itu?

Jika pertumbuhan hanya menguntungkan korporasi dan meninggalkan luka ekologis bagi generasi mendatang, maka itu bukan kemajuan melainkan kehancuran yang ditunda.

Maluku Utara tidak kekurangan sumber daya. Yang langka adalah keberanian politik dan visi pembangunan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan. Tanpa perubahan arah kebijakan, kebanggaan hari ini bisa berubah menjadi penyesalan kolektif di masa depan.

Dan saat itu tiba, mungkin sudah terlambat untuk memperbaiki apa yang telah dihancurkan.

(Red/Pandi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan
DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan
BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta
Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 
Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 
Resmob Polres Halsel Tangkap Terduga Pelaku Pencurian, Dua Motor Diamankan Dan Kasus Dikembangkan
TIDAR Halsel Ikut Perang Lawan Dugaan Mafia BBM Subsidi, Siapkan Pengawasan Ketat Di Babang
Dituding Tampung Solar Subsidi, Pemilik Gudang Babang Angkat Bicara

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:35

Pangdam XV/Pattimura Fokuskan 100 Hari Kerja pada Stabilitas Keamanan, Pembangunan, Dan Ketahanan Pangan

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:53

DPRD Halsel Desak Bupati Copot Kepala BPPBJ, Kasus Dugaan Pengaturan Tender Cathlab Jadi Sorotan

Senin, 13 Juli 2026 - 06:13

BNI Labuha Diduga Bikin Calengan Di Dalam Bank, Nasabah Pertanyakan Hilangnya Dana Rp400 Juta

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:35

Dua Tersangka Tambang Ilegal Desa Anggai Belum Ditahan, PH Desak Kapolda Copot Kapolres Halsel 

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:55

Kasus Tambang Ilegal, Dua Tersangka Diduga Berkeliaran Sampai Di Malaysia, 

Berita Terbaru

BacaPost.Com

Pemda Halbar Respon Cepat Masalah Sengketa Lahan Di Tosoa

Minggu, 23 Agu 2026 - 05:47

BacaPost.Com

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:36