Di tengah percepatan hilirisasi industri nikel di Maluku Utara, kebutuhan akan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi terus meningkat. Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada 2026 menargetkan pelatihan kompetensi dan kewirausahaan bagi 1.000 orang. Namun, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total angkatan kerja di Maluku Utara yang mencapai sekitar 211.000 orang per Maret 2026.
Dengan tingkat pengangguran sebesar 4,44 persen, tantangan utama saat ini bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan tenaga kerja lokal memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Halmahera Selatan, Dr. Daud Djubaedi, saat menghadiri Upacara Kelulusan Program PELITA (Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda) Batch IV yang diselenggarakan Harita Nickel, Jumat (26/6). Pada angkatan ini, sebanyak 40 peserta dinyatakan lulus dari pelatihan Operator Overhead Crane.
Menurut Daud, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal merupakan langkah penting agar masyarakat tidak hanya memiliki kesempatan bekerja di sektor industri, tetapi juga mampu menjalankan pekerjaan secara profesional, disiplin, dan mengutamakan keselamatan kerja.
“Yang lebih penting dari sekadar sertifikat adalah disiplin, sikap, perilaku kerja, dan komitmen terhadap keselamatan kerja,” ujar Daud.
Ia menambahkan, perkembangan industri di Pulau Obi membuka peluang kerja yang semakin luas bagi masyarakat Halmahera Selatan. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan kompetensi dan kemauan untuk terus belajar.
“Kami berharap program seperti PELITA dapat terus diperkuat melalui kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. Dengan begitu, harapan masyarakat terhadap meningkatnya partisipasi tenaga kerja lokal dapat dijawab secara bertahap melalui kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” tambahnya.
Bagi para peserta, Program PELITA menjadi wadah untuk mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia kerja. Salah satu peserta, La Bae La Jafar (26), pemuda asal Desa Manatahan, mengaku pelatihan tersebut telah mengubah cara pandangnya terhadap dunia kerja.
“Dulu saya hanya seorang crew. Sekarang saya merasa bangga karena bisa meningkatkan potensi diri. Hal paling berharga yang saya pelajari adalah disiplin, tanggung jawab, dan menghargai waktu,” ungkapnya.
Rasa bangga juga disampaikan Jasmita, ibu La Bae. Ia menilai keberhasilan putranya menyelesaikan pelatihan menjadi kebanggaan bagi keluarga sekaligus membuka peluang untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan industri di Pulau Obi.
“Anak saya sekarang bisa menjadi kebanggaan keluarga dan ikut berkontribusi dalam pembangunan industri di Pulau Obi,” katanya.
Program PELITA sendiri telah berjalan dalam beberapa angkatan sebagai upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal. Batch pertama meluluskan 14 operator Wheel Loader, batch kedua meluluskan 28 operator Overhead Crane yang kini telah bekerja di fasilitas RKEF PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), sementara batch ketiga meluluskan 22 peserta pelatihan Bahasa Mandarin yang saat ini sedang menjalani masa pemagangan.
Melalui program ini, diharapkan semakin banyak putra-putri daerah yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri, sehingga mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperluas keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pembangunan sektor hilirisasi di Halmahera Selatan. (Red/Pandi)



















