Warga Desa Bokimiake, Kecamatan Kayoa Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, dilanda kecemasan setelah jembatan penghubung utama di desa tersebut ambruk akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo, Kamis (2/4/2026).
Jembatan yang selama ini menjadi akses vital menuju permukiman dan fasilitas pendidikan, khususnya SMP setempat, kini tidak lagi dapat dilalui secara normal. Akibatnya, aktivitas masyarakat dan para siswa terganggu drastis.
Informasi yang dihimpun dari aparat desa, Kaur Bokimiake, Hafel Basara, menyebutkan bahwa jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur penghubung yang digunakan setiap hari oleh warga dan pelajar.
“Ini akses utama ke permukiman dan sekolah. Sekarang sudah putus total,” ungkap Hafel.
Kondisi ini memaksa warga dan siswa mengambil risiko besar dengan mencari jalur alternatif untuk menyeberang. Bahkan, sebagian warga harus “batobo” atau bergotong royong melintasi jalur yang tidak aman demi tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi keselamatan para pelajar yang setiap hari harus menempuh perjalanan ke sekolah di tengah keterbatasan akses.
Warga pun berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera turun tangan menangani kondisi darurat ini.
“Kami harap ada perhatian dari pemda. Jangan tunggu ada korban baru ditindak,” tegas Hafel.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya upaya perbaikan maupun penanganan darurat di lokasi jembatan yang ambruk. Masyarakat mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk memulihkan akses vital tersebut demi keselamatan dan kelancaran aktivitas warga.(Red/Pandi)



















