Langit Ternate sore itu menggantung mendung. Langkah Ishak Mursid, S.Pd. terasa berat ketika menapaki anak tangga menuju ruang pertemuan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara. Di sampingnya, Ketua Komite SMA Negeri 20 Halmahera Selatan, yang juga Sekretaris Desa Indari, berjalan dalam diam.
Mereka datang membawa secarik harapan bukan sekadar berkas harap agar Ishak diberi kesempatan kembali memimpin sekolah yang pernah menjadi bagian dari hidup dan pengabdiannya, Jumat, 17 Oktober 2025
Namun di balik pintu itu, kenyataan berkata lain. Keputusan telah bulat: jabatan Kepala SMA Negeri 20 Halsel resmi dipegang oleh Rusmini Hasan, S.Pd. sebagai Pelaksana Tugas (Plt). Seketika, harapan yang dirajut dengan keyakinan itu terurai pelan tali pandara yang dulu kokoh antara pengabdian dan kepercayaan, kini putus di simpul birokrasi.
Bagi sebagian orang, pergantian kepala sekolah hanyalah rutinitas administrasi. Namun bagi Ishak, sekolah itu adalah hidupnya. Di sana ia menanam waktu, tenaga, dan cita-cita. Ia tak sekadar kehilangan jabatan ia kehilangan tempat berpijak di panggung pengabdian yang selama ini ia bangun sendiri.
Tetapi sejarah tak bisa dihapus dengan harapan. Sederet pelanggaran di masa kepemimpinannya masih membekas: dugaan pungutan liar, manipulasi data siswa fiktif, tunggakan gaji tenaga OPS, keterlambatan pembayaran honor lima tenaga lepas, hingga temuan penyalahgunaan Dana BOSP. Catatan-catatan itu menjadi jejak yang seharusnya direnungkan bukan disangkal. Sebab pengabdian sejati tak pernah lepas dari tanggung jawab.
Di sisi lain, pergantian kepemimpinan ini membuka lembaran baru. Rusmini Hasan, sang Plt kepala sekolah, datang membawa semangat pembenahan: menata ulang administrasi, memulihkan komunikasi antara guru dan orang tua, serta mengembalikan fokus sekolah pada mutu pembelajaran. Namun perubahan, seperti biasa, tak datang tanpa riak. Sebagian pihak masih terjebak dalam bayang kesetiaan lama sulit menerima kenyataan baru.
“Kalau setiap pergantian kepala sekolah menjadi panggung tarik-menarik kepentingan, yang paling dirugikan itu siswa,” ujar Capodo Van Gaal dengan nada prihatin.
“Sekolah bukan tempat mempertahankan ego, tapi ruang untuk menumbuhkan masa depan.”
Kini, setelah semua keputusan diambil, tali pandara itu benar-benar putus. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang kepala sekolah yang pernah menaruh harap pada ruang kelas yang kini tak lagi ia pimpin.
Namun dari perpisahan itu, terselip satu pelajaran berharga: bahwa pengabdian sejati seorang pendidik tak diukur dari jabatan, melainkan dari jejak kebaikan yang tertinggal di hati murid dan rekan sejawatnya.
Dan di halaman SMA Negeri 20 Halsel yang tenang menjelang sore, angin membawa pesan lirih: bahwa setiap tali yang putus mungkin tak bisa disambung kembali, namun dari ujungnya, selalu ada ruang untuk menumbuhkan ikatan baru selama yang tersisa adalah niat tulus untuk mendidik, melayani, dan memperbaiki.



















