Selama puluhan tahun, Sungai Akelamo menjadi tantangan tersendiri bagi warga Desa Kawasi dan Desa Soligi di Kabupaten Halmahera Selatan. Menyeberangi sungai terbesar di Pulau Obi itu bukan perkara mudah, terutama saat arus deras dan cuaca buruk.
Kini, kondisi tersebut telah berubah. Sejak awal 2025, Jembatan Sungai Akelamo resmi beroperasi dan mengakhiri isolasi darat yang selama ini dirasakan masyarakat.
Sebagai satu-satunya jalur keluar (outlet) air dari Danau Karo, Sungai Akelamo memiliki peran vital, namun juga menjadi hambatan mobilitas. Sebelum jembatan dibangun, warga mengandalkan jembatan ponton dermaga apung sederhana yang dioperasikan secara manual dengan kapasitas terbatas untuk distribusi hasil perkebunan dan aktivitas sehari-hari.
Hadirnya jembatan sepanjang 105 meter dan lebar 20 meter yang dibangun dengan dukungan Harita Nickel kini membawa perubahan signifikan. Infrastruktur ini tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga menjadi urat nadi baru bagi perekonomian masyarakat di pesisir barat dan selatan Pulau Obi.
Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengungkapkan bahwa sebelum ada jembatan, mobilitas warga sangat bergantung pada kondisi alam.
“Dulu warga harus menyesuaikan arus dan cuaca saat menyeberang. Sekarang akses lebih aman, cepat, dan efisien. Ini juga sangat memudahkan warga untuk menjangkau layanan kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.(28/02/2026)
Hal senada disampaikan Kepala Desa Kawasi, Arifin Saroa. Ia menilai kehadiran jembatan membuka peluang kolaborasi ekonomi antardesa.
“Sekarang torang (kita) bisa atur dengan baik untuk berjualan bersama. Waina (ibu-ibu pedagang) dari Soligi dan Kawasi bisa bekerja sama karena akses darat sudah terbuka,” katanya.
Dampak positif pembangunan ini juga mendapat perhatian dari Perkumpulan Telapak. Asesor sosial organisasi tersebut, Mohammad Djufryhard, menilai kehadiran jembatan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia membandingkan pengalamannya saat berkunjung ke Pulau Obi pada 2023, ketika masih harus menyeberang menggunakan jembatan ponton, dengan kondisi pada 2025 saat jembatan telah beroperasi.
“Perubahan ini sangat terasa. Jembatan ini memudahkan akses antardesa serta membantu distribusi hasil pertanian dan perikanan. Ini merupakan nilai tambah dari pembangunan infrastruktur yang terus meningkat setiap tahun,” ungkapnya.
Jembatan Akelamo merupakan fasilitas kedua yang dibangun oleh Harita Nickel. Sebelumnya, pada 2024, perusahaan tersebut juga telah meresmikan jembatan di dalam kawasan Desa Soligi dengan nilai investasi sekitar Rp1,25 miliar.
Head of External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di wilayah lingkar tambang.
“Tanpa kolaborasi yang baik dengan masyarakat, pembangunan ini tidak akan terwujud. Kami berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar area operasional,” pungkasnya. (Red/Pandi)



















