Halsel — BacaPost.Com, Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh teknologi, semangat masyarakat Desa Marabose untuk membangun budaya literasi terus menyala. Hal itu tampak dalam kiprah Rumah Baca Takapi, sebuah ruang belajar komunitas yang lahir dari kesadaran warga untuk menjadikan pengetahuan sebagai pilar pembangunan desa.
Rumah Baca Takapi bukan sekadar tempat membaca buku. Ia telah menjadi wadah pemberdayaan masyarakat, tempat berbagi ilmu, dan ruang belajar bersama tanpa batas usia maupun status sosial. Berpegang pada nilai kemandirian intelektual, kesetaraan pengetahuan, dan kebersamaan komunitas, rumah baca ini berupaya menumbuhkan budaya berpikir kritis di kalangan masyarakat desa.
Makna “Takapi” dan Filosofi Gerakan Literasi : Nama “Takapi” diambil dari bahasa lokal Bacan–Kayoa yang berarti menopang atau menyokong agar tidak jatuh. Dalam konteks Rumah Baca Takapi, istilah ini dimaknai sebagai penyangga kehidupan simbol ruang yang memberi kekuatan dan tempat bernaung bagi generasi muda dalam menumbuhkan minat belajar serta berpikir kritis.
“Takapi adalah penyangga ilmu, tempat kita berteduh dari gelapnya kebodohan, dan berdiri membangun masa depan bersama,” semboyan filosofis para penggerak Rumah Baca Takapi.
Rumah Baca Takapi memandang literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan pembebasan dari ketidakpedulian, ketergantungan, dan kebodohan. Dengan prinsip literasi sebagai pembebasan, gotong royong pengetahuan, pelestarian budaya lokal, dan kemandirian komunitas, Takapi berupaya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan rakyat dalam membangun masa depan yang berkeadilan.
Apresiasi terhadap Pemerintah Desa Marabose : Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi, Pemerintah Desa Marabose memberikan bantuan buku bacaan anak untuk Rumah Baca Takapi. Dukungan ini mendapat apresiasi tinggi dari para pengelola rumah baca karena dinilai sebagai langkah nyata dalam memperkuat budaya baca di tingkat akar rumput.
Menurut Muhammad Kasim Faisal, pegiat literasi sekaligus pendiri Rumah Baca Takapi, inisiatif tersebut mencerminkan komitmen moral pemerintah desa terhadap pendidikan dan kemajuan masyarakat.
“Bantuan buku bukan hanya dukungan material, tetapi bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi muda. Literasi adalah benteng kedaulatan pengetahuan di era globalisasi,” ujar Kasim. Kamis,16 Oktober 2025
Ia menambahkan, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah desa seperti yang dilakukan Marabose menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan sumber daya manusia dapat tumbuh dari bawah melalui semangat gotong royong.
Harapan dan Tujuan Gerakan : Rumah Baca Takapi menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan gerakan literasi berbasis komunitas. Melalui kegiatan membaca bersama, pelatihan menulis, hingga pelestarian budaya lokal, rumah baca ini berharap mampu:
1. Menjadikan literasi sebagai sarana pengembangan intelektual dan karakter generasi muda.
2. Mendorong kolaborasi lintas elemen masyarakat pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan komunitas.
3. Menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa membaca adalah bagian dari perjuangan membangun desa yang berdaulat dan berkeadilan.
4. Menjadikan Desa Marabose sebagai contoh Desa Literasi yang menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan utama pembangunan.
Penutup
Rumah Baca Takapi percaya bahwa setiap buku yang dibaca adalah jendela menuju perubahan, dan setiap anak yang berani bermimpi adalah benih masa depan bangsa. Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor, Takapi akan terus berdiri sebagai penyangga ilmu, penopang harapan, dan cahaya bagi generasi desa.
(Red)



















