JUJUR Di Halmahera Barat: Pembangunan Tanpa Makna, Kepemimpinan Tanpa Arah.

Senin, 23 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gusti Ramli
(Ketua Umum SEMAHABAR Kota Ternate)

Oleh: Gusti Ramli (Ketua Umum SEMAHABAR Kota Ternate)

Satu tahun pemerintahan pasangan James Uang dan Djufri Muhamad dengan jargon politik “JUJUR” di Halmahera Barat seharusnya menjadi momentum refleksi publik. Pemerintahan yang lahir dari mandat rakyat dituntut mampu menjawab harapan besar: perbaikan tata kelola, pembangunan merata, serta birokrasi yang bersih dan profesional.

Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan potret yang jauh dari ideal. Alih-alih menghadirkan terobosan progresif, pemerintahan “JUJUR” dinilai masih terjebak dalam persoalan klasik birokrasi stagnan, arah pembangunan yang kabur, serta praktik kekuasaan yang cenderung elitis.

Setiap kontestasi politik selalu dibangun di atas narasi perubahan. Pasangan “JUJUR” hadir dengan berbagai janji, mulai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat, pembangunan infrastruktur, hingga reformasi birokrasi.

Namun dalam praktiknya, janji-janji tersebut belum menunjukkan arah yang jelas. Pembangunan daerah masih berjalan dalam pola lama berbasis proyek fisik tanpa perencanaan jangka panjang yang matang.

Padahal, secara fiskal, Halmahera Barat masih sangat bergantung pada transfer dana dari pemerintah pusat, seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Desa. Ketergantungan ini seharusnya mendorong inovasi dalam mengelola potensi lokal, seperti sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata.

Baca Juga:  IKB-MASATAWA Halsel Gelar Pengukuhan Pengurus, Bupati Dan Wakil Bupati Dijadwalkan Hadir

Sayangnya, inovasi kebijakan strategis nyaris belum terlihat dalam satu tahun terakhir.

Persoalan lain yang mengemuka adalah lemahnya reformasi birokrasi. Rotasi jabatan, promosi, hingga penempatan aparatur kerap dipersepsikan publik tidak sepenuhnya berbasis kompetensi.

Birokrasi daerah masih dibayangi praktik patronase politik, di mana loyalitas lebih diutamakan daripada profesionalitas. Dampaknya, kinerja aparatur menjadi tidak maksimal dan rentan terhadap konflik kepentingan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka agenda pembangunan akan selalu berjalan setengah hati.

Pemerintah daerah kerap menonjolkan pembangunan fisik sebagai indikator keberhasilan. Jalan dibangun, gedung didirikan, dan proyek infrastruktur terus berjalan setiap tahun.

Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah pembangunan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat?

Pemikiran ekonom Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom menegaskan bahwa pembangunan sejatinya adalah proses memperluas kebebasan nyata yang dinikmati manusia. Artinya, pembangunan tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata, tetapi harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Baca Juga:  Guru Fiktif Diduga Lolos PPG 2025: Menantu Mantan Kepsek SMA 20 Halsel Terseret Skandal

Faktanya, di sejumlah wilayah kecamatan, persoalan dasar seperti akses kesehatan, kualitas pendidikan, dan infrastruktur desa masih menjadi keluhan. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil bahkan masih menghadapi keterbatasan layanan dasar.

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan masih berorientasi pada output proyek, bukan outcome kesejahteraan.

Persoalan paling mendasar terletak pada aspek kepemimpinan. Pemerintahan daerah membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan arah perubahan yang jelas, bukan sekadar menjalankan rutinitas administratif.

Kepemimpinan transformasional seharusnya mendorong reformasi birokrasi, inovasi kebijakan, serta membangun kepercayaan publik melalui transparansi dan akuntabilitas.

Tanpa itu, pemerintahan hanya akan berjalan sebagai pengelola anggaran tahunan tanpa perubahan struktural yang berarti.

Jika kondisi ini terus berlanjut, risiko terbesar adalah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

Pemikiran Francis Fukuyama dalam bukunya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity menekankan bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi utama bagi stabilitas dan kemajuan pemerintahan.

Baca Juga:  Diduga Kongkalikong Soal Ganti Rugi Lahan, DPMD Halsel Siap Panggil Kades Loleojaya Dan Kou Bala-Bala

Dalam konteks politik lokal, krisis kepercayaan muncul ketika masyarakat menilai pemerintah lebih sibuk mengelola kekuasaan daripada menyelesaikan persoalan rakyat.

Padahal, kepercayaan publik adalah modal utama pemerintahan. Ketika itu terkikis, legitimasi politik pun perlahan melemah.

Satu tahun pemerintahan adalah waktu yang cukup untuk membaca arah kepemimpinan. Potret pemerintahan “JUJUR” di Halmahera Barat sejauh ini menunjukkan bahwa perubahan yang dijanjikan masih jauh dari harapan.

Pemerintah daerah tidak boleh terjebak dalam retorika dan romantisme kemenangan politik. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberanian untuk membongkar praktik lama, memperbaiki tata kelola, dan memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat.

Jika tidak, maka slogan “JUJUR” hanya akan menjadi simbol politik tanpa makna yang perlahan kehilangan relevansi di tengah realitas pemerintahan.

Editor : (Red/Pandi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Warga Minta Bupati Halsel Dan Kadis DPMD Berkantor Di Kantor Desa Laigoma
Tak Perlu Lagi Berobat Jauh, Kehadiran Pustu Soligi dan Kawasi Dekatkan Akses Medis Warga Obi 
Diduga Tak Mampu Selesaikan Polemik, Iksan Kaleserang Pilih Laporkan Tiga Wartawan Anggota PWI
Sekdes Kusubibi Diduga Terseret Kasus TPPU, Polres dan Kejari Halsel Diminta Turun Tangan
Pemda Halsel Alokasikan Bansos Untuk Masyarakat Kurang Mampu Dan Biaya Akhir Studi Mahasiswa 
Kepala Desa Laigoma Samsul Marwa Diduga Jarang Berkantor, Warga Palang Kantor Desa
Kapolda Malut Batal Kunker ke Halsel, Ini Alasannya 
Polsek Jailolo Selatan Kawal Aksi Warga Tolak Pemberhentian Kades Sidangoli Dehe

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:56

Warga Minta Bupati Halsel Dan Kadis DPMD Berkantor Di Kantor Desa Laigoma

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:53

Tak Perlu Lagi Berobat Jauh, Kehadiran Pustu Soligi dan Kawasi Dekatkan Akses Medis Warga Obi 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:20

Diduga Tak Mampu Selesaikan Polemik, Iksan Kaleserang Pilih Laporkan Tiga Wartawan Anggota PWI

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:16

Sekdes Kusubibi Diduga Terseret Kasus TPPU, Polres dan Kejari Halsel Diminta Turun Tangan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:19

Pemda Halsel Alokasikan Bansos Untuk Masyarakat Kurang Mampu Dan Biaya Akhir Studi Mahasiswa 

Berita Terbaru