Harita Nickel Dan Masyarakat Kawasi Perkuat Kolaborasi Jaga Warisan Budaya Pulau Obi

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kunjungan Masyarakat Desa Kawasi ke Danau Karo

Kunjungan Masyarakat Desa Kawasi ke Danau Karo

Lebih dari 30 warga Desa Kawasi mengikuti kegiatan Jelajah Warisan Budaya yang diselenggarakan oleh Harita Nickel di Kawasan Industri Obi, (23/05/2026). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat, dan perusahaan dalam menjaga situs sejarah serta warisan budaya di Pulau Obi.

Kegiatan dipandu dua tokoh pemuda Desa Kawasi, Jofi Cako dan Teo Jurumudi, bersama tim perusahaan. Para peserta mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah dan kawasan lingkungan penting seperti Danau Karo dan Benteng De Brill yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah serta kehidupan masyarakat Obi, khususnya warga Kawasi.

Jofi Cako mengatakan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa warisan budaya di Kawasi dan Pulau Obi merupakan tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Warisan budaya di Kawasi dan Pulau Obi adalah milik bersama. Karena itu, masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan perlu berjalan bersama menjaga sejarah dan nilai-nilai budaya yang ada,” ujar Jofi.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Danau Karo, danau alami yang sejak lama dikenal sebagai sumber air bersih dan sumber kehidupan masyarakat di lingkar Pulau Obi. Selain memiliki nilai ekologis, danau tersebut juga menyimpan nilai budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Kawasi.

Baca Juga:  Menjadi Paskibraka, Kharissa: Kami Belajar Disiplin, Pengorbanan Dan Cinta Tanah Air

Dalam kunjungan itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan Danau Karo sebagai salah satu sumber air operasional industri, termasuk upaya perusahaan dalam melakukan pemantauan kualitas air, penghijauan, dan revegetasi di sekitar kawasan danau.

Sejumlah warga juga berbagi cerita mengenai hubungan masyarakat dengan Danau Karo, termasuk keberadaan kebun-kebun sagu milik warga di sekitar kawasan tersebut. Dialog berlangsung terbuka antara masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa, dan perusahaan terkait sejarah kawasan serta perubahan yang terjadi di Pulau Obi dari masa ke masa.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Benteng De Brill, benteng peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1674 di Pulau Obi. Benteng tersebut dulunya digunakan untuk menjaga monopoli perdagangan rempah-rempah dan sempat tertutup vegetasi sebelum kembali ditemukan dan dibersihkan pada awal operasional Harita Nickel di Obi.

Saat ini, situs tersebut telah tercatat sebagai cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI Maluku Utara bersama Harita Nickel.

Tetua adat Desa Kawasi, Otniel Datang, mengatakan masyarakat setempat mengenal Danau Karo dengan beberapa sebutan lokal seperti Talaga Diki-Diki maupun Talaga Ma Hilo dalam bahasa Tobelo yang berarti Danau Damar.

Menurutnya, nama itu berasal dari kebiasaan masyarakat pada masa lalu yang mengambil getah damar di sekitar kawasan danau untuk kebutuhan penerangan.

Baca Juga:  Kecelakaan Kerja Di Kawasi, Sefnat Tagaku: Semoga Keluarga Korban Diberi Kekuatan, Apresiasi Tanggung Jawab Perusahaan

“Danau ini masih terasa seperti dulu. Pulau kecil di tengah danau tetap menjadi bagian dari ingatan masyarakat Kawasi. Kondisinya masih terawat dan harus terus dijaga bersama karena punya nilai sejarah bagi masyarakat,” kata Otniel.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Kawasi sekaligus Pembina Himpunan Solidaritas Pelajar Mahasiswa Kawasi (HSPMK), Teo Jurumudi, menilai kegiatan semacam ini penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal langsung situs-situs sejarah di Pulau Obi.

“Danau Karo maupun Benteng De Brill atau Benteng Loji merupakan bagian dari identitas masyarakat Kawasi. Setelah melihat langsung, kondisi danau masih terjaga dengan air yang jernih dan pepohonan hijau di sekitarnya,” ujarnya.

Teo juga mengungkapkan bahwa keluarganya dahulu termasuk salah satu dari sekitar sepuluh kepala keluarga yang pernah tinggal di pulau kecil di tengah Danau Karo, sehingga kawasan tersebut memiliki kedekatan emosional bagi sebagian warga Kawasi.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi, Reinhard Siar, turut mengapresiasi keterbukaan perusahaan yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk melihat langsung kawasan operasional industri maupun lokasi-lokasi budaya di sekitar area perusahaan.

“Kita melihat langsung bahwa kondisi Danau Karo masih terjaga, airnya jernih, dan kawasan sekitarnya masih hijau. Danau ini juga memberi manfaat bagi daerah melalui pajak air permukaan yang dibayarkan perusahaan,” ujarnya.

Baca Juga:  Dua Guru Inspiratif Halsel Terima Penghargaan Dari Bupati Dan Wakil Bupati

Di sisi lain, Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya menjalankan operasional pertambangan dengan memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial kemasyarakatan, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Menurut Dian, area seperti Danau Karo dan Benteng De Brill bukan hanya memiliki fungsi lingkungan, tetapi juga menyimpan sejarah dan nilai budaya yang penting bagi masyarakat Kawasi dan Pulau Obi.

“Kami menetapkan batas dan perimeter khusus untuk melindungi area-area tersebut dari aktivitas pertambangan maupun smelter agar kelestariannya tetap terjaga untuk generasi mendatang,” jelas Dian.

Ia menambahkan, perusahaan juga menerapkan prosedur Chance Find Procedure, yakni penghentian sementara aktivitas kerja apabila ditemukan indikasi benda atau situs bernilai sejarah dan budaya, sebelum dilakukan pengamanan dan koordinasi dengan pihak terkait.

Menutup kegiatan tersebut, Jofi kembali menegaskan pentingnya menjaga situs sejarah sebagai bagian dari menjaga ingatan kolektif masyarakat Kawasi.

“Menjaga situs sejarah bukan hanya melindungi lokasi fisik, tetapi juga menjaga cerita dan identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Di Desa Loleojaya, Pemdes Salurkan Bantuan
Rumah Din dan Sarni Di Loleojaya Ludes Terbakar, Harta Benda dan Dokumen Penting Ikut Musnah
Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri
Di Tengah Isu Referendum Maluku Utara, Boki Nita Serukan Persatuan Dan Pelestarian Adat
Bupati Bassam Kasuba Buka Festival Sepak Bola Anak Merdeka Di Stadion GBK Halsel 
Kadis Mangkir Di Saat RDP, Komisi III DPRD Halsel Usir Perwakilan Dinas Pariwisata
Excavator PT Intim Kara Melintas Di Jalan Umum, Warga Soroti Keselamatan Dan Potensi Kerusakan Jalan
Bawaslu Halsel Perkuat Pencegahan Pemilu, Demokrat Diajak Pahami Aturan Terbaru

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:11

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Di Desa Loleojaya, Pemdes Salurkan Bantuan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:55

Rumah Din dan Sarni Di Loleojaya Ludes Terbakar, Harta Benda dan Dokumen Penting Ikut Musnah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:11

Di Tengah Isu Referendum Maluku Utara, Boki Nita Serukan Persatuan Dan Pelestarian Adat

Jumat, 21 Agustus 2026 - 02:30

Bupati Bassam Kasuba Buka Festival Sepak Bola Anak Merdeka Di Stadion GBK Halsel 

Berita Terbaru

BacaPost.Com

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:36