Ternate — BacaPost.Com, Kumpulan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Khairun (Unkhair) Ternate menggelar Expo K-13 dengan mengangkat tema Pemanfaatan Limbah Oli Bekas sebagai Bahan Bakar Kompor Alternatif. (18/12/2025)
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi, diskusi, dan inovasi terkait pengelolaan limbah berbahaya yang jumlahnya terus meningkat seiring pertumbuhan kendaraan bermotor.
Expo K-13 menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi, praktisi lingkungan, dan mahasiswa. Narasumber pertama yakni Syarif Tjan, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Narasumber kedua Rudi Hartono, S.T., M.Ling, serta mahasiswa Teknik Mesin Unkhair Amar Asriyanto U. Sau. Diskusi dipandu oleh moderator Adit F. Adam A.R.
Dalam pemaparannya, Syarif Tjan menegaskan bahwa oli bekas merupakan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang pengelolaannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia menekankan bahwa setiap upaya pemanfaatan limbah harus berangkat dari prinsip inovasi yang adil bagi manusia dan lingkungan.
“Jumlah kendaraan saat ini bahkan lebih banyak dibanding jumlah manusia. Dampaknya, produksi oli bekas sangat tinggi. Di Kota Ternate saja, volume oli bekas bisa mencapai sekitar 260 ribu liter per bulan. Pertanyaannya, mau dikemanakan limbah sebanyak itu?” ujarnya.
Menurut Syarif, pengelolaan oli bekas wajib dilakukan oleh pihak yang memiliki izin dan sertifikasi resmi. Jika tidak dikelola dengan benar, limbah tersebut berpotensi mencemari udara, tanah, dan sumber air, serta berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Ia juga memaparkan berbagai inovasi pengelolaan lingkungan yang telah didorong DLH Kota Ternate, seperti pembangunan rumah maggot, pemanfaatan sampah plastik menjadi paving blok, pengembangan briket sebagai pengganti minyak tanah, hingga inovasi berbasis regulasi lingkungan. Selain itu, terdapat pula pengelolaan depot transfer sampah serta pemanfaatan limbah kategori LP3, termasuk fly ash dan slag nikel dari aktivitas pertambangan.
Sementara itu, mahasiswa Amar Asriyanto U. Sau memaparkan kajian teknis pemanfaatan oli bekas dari sudut pandang teknik mesin. Ia menjelaskan bahwa tidak semua oli bekas dapat langsung dibakar, karena memiliki karakteristik viskositas yang berbeda-beda.
“Jika oli bekas langsung dibakar tanpa proses daur ulang, dampaknya bisa berupa pencemaran udara, bau menyengat, dan pemborosan energi. Karena itu, tahapan awal yang wajib dilakukan adalah proses recycle, agar oli bekas dapat diolah menjadi bahan bakar yang lebih aman dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Menurut Amar, oli bekas memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar setara solar. Namun demikian, masih diperlukan riset lanjutan guna memastikan tingkat efisiensi, keamanan, serta dampaknya terhadap lingkungan.
Melalui Expo K-13 ini, mahasiswa Teknik Mesin Unkhair berharap dapat mendorong kesadaran publik dan pemerintah agar lebih serius menangani persoalan limbah oli bekas, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan energi alternatif berkelanjutan berbasis inovasi lokal.
(Red)



















