Milad HMI Ke-79: Pendidikan Di Persimpangan Sejarah Dan Pengkhianatan Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh : Apriyadi Agus

Kader Himpunan Mahasiswa Islam

Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momen perhitungan sejarah. Di tengah krisis multidimensi bangsa, pendidikan Indonesia berada dalam situasi genting: dipaksa bergerak maju oleh tuntutan zaman, namun secara perlahan dilemahkan oleh kebijakan yang kehilangan orientasi kebangsaan dan nilai keadaban. Pendidikan hari ini tidak lagi diarahkan untuk membebaskan manusia, tetapi dipersempit menjadi alat penyesuaian terhadap logika pasar dan kepentingan kekuasaan.

Konstitusi telah memberi arah yang jelas. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan pendidikan sebagai hak dasar warga negara sekaligus kewajiban negara. Pendidikan dimandatkan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun dalam praktik kebijakan, negara lebih sering hadir sebagai pengelola administratif daripada penjamin keadilan pendidikan. Anggaran dibesarkan, tetapi ketimpangan justru dilembagakan. Kurikulum silih berganti, sementara arah ideologis pendidikan tetap kabur.

Baca Juga:  KM Permata Obi Tabrak Queen Mery Di Pelabuhan Jailolo, KPLP Ungkap Penyebabnya

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya, kebijakan turunannya justru mereduksi pendidikan menjadi proyek teknokratis. Sekolah dan kampus dipaksa tunduk pada indikator kuantitatif, sementara dimensi kritis, etis, dan transformatif disingkirkan. Pendidikan dikejar agar “efisien”, namun kehilangan makna; dipacu agar “kompetitif”, tetapi abai terhadap keadilan sosial.

Dalam perspektif Islam, krisis ini bukan sekadar kegagalan manajerial, melainkan penyimpangan nilai. Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai sarana pembebasan manusia dari kebodohan dan penindasan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa derajat manusia ditinggikan melalui iman dan ilmu. Ketika pendidikan dipisahkan dari nilai iman, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah, ia tidak lagi menjadi instrumen pemuliaan manusia, melainkan alat reproduksi ketimpangan.

Baca Juga:  Pemuda Gamomeng Gelar Aksi Solidaritas Dukung Penanganan Pascabanjir oleh Plt Kades

Lebih mendasar lagi, wahyu pertama dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 memerintahkan membaca realitas dengan kesadaran ketuhanan. “Iqra’” bukan hanya membaca teks, tetapi membaca struktur sosial yang menindas. Pendidikan yang membungkam daya kritis, membatasi kebebasan berpikir, dan menormalisasi ketidakadilan sejatinya telah berkhianat pada spirit awal peradaban Islam itu sendiri.

Di titik inilah HMI tidak boleh bersikap netral. Sejarah HMI adalah sejarah perlawanan intelektual terhadap pembodohan yang dilembagakan. HMI lahir bukan untuk menjadi penonton kebijakan, tetapi sebagai kekuatan moral yang mengoreksi arah negara. Ketika pendidikan dijauhkan dari cita-cita keadilan sosial, diam adalah bentuk kompromi, dan kompromi adalah pengkhianatan ideologis.

Milad ke-79 harus dimaknai sebagai momentum konsolidasi ideologis. HMI dituntut kembali pada khittah perjuangannya: memadukan keislaman dan keindonesiaan dalam praksis sosial. Pendidikan harus diperjuangkan sebagai alat pembebasan kolektif, bukan sekadar jalur mobilitas individual. Negara harus terus diingatkan bahwa pendidikan bukan komoditas, dan peserta didik bukan sekadar angka statistik.
Pendidikan Indonesia hari ini berada di persimpangan sejarah: maju karena desakan kesadaran kolektif, atau mati karena kebijakan yang tunduk pada kepentingan sempit. Di persimpangan inilah HMI berdiri—sebagai penjaga nurani, penegak akal sehat, dan penyambung nilai ilahiah dalam ruang publik.

Baca Juga:  Pemkab Halmahera Selatan Siapkan Mudik Gratis, Sediakan 4 Kapal dan 15 Speed Boat

Milad HMI ke-79 adalah alarm perlawanan. Membela pendidikan berarti membela masa depan bangsa. Bagi HMI, berpikir adalah ibadah, bersuara adalah amanah, dan diam di hadapan ketidakadilan adalah dosa sejarah.

Editor : (Red/Pandi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemda Halbar Respon Cepat Masalah Sengketa Lahan Di Tosoa
Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Di Desa Loleojaya, Pemdes Salurkan Bantuan
Rumah Din dan Sarni Di Loleojaya Ludes Terbakar, Harta Benda dan Dokumen Penting Ikut Musnah
Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri
Di Tengah Isu Referendum Maluku Utara, Boki Nita Serukan Persatuan Dan Pelestarian Adat
Bupati Bassam Kasuba Buka Festival Sepak Bola Anak Merdeka Di Stadion GBK Halsel 
Kadis Mangkir Di Saat RDP, Komisi III DPRD Halsel Usir Perwakilan Dinas Pariwisata
Excavator PT Intim Kara Melintas Di Jalan Umum, Warga Soroti Keselamatan Dan Potensi Kerusakan Jalan

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:47

Pemda Halbar Respon Cepat Masalah Sengketa Lahan Di Tosoa

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:11

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Di Desa Loleojaya, Pemdes Salurkan Bantuan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:55

Rumah Din dan Sarni Di Loleojaya Ludes Terbakar, Harta Benda dan Dokumen Penting Ikut Musnah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:11

Di Tengah Isu Referendum Maluku Utara, Boki Nita Serukan Persatuan Dan Pelestarian Adat

Berita Terbaru

BacaPost.Com

Pemda Halbar Respon Cepat Masalah Sengketa Lahan Di Tosoa

Minggu, 23 Agu 2026 - 05:47

BacaPost.Com

Polres Halsel Gelar Upacara Peringatan Hari Juang Polri

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:36