Perayaan Tahun Baru Imlek kembali menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa, khususnya di kawasan Asia. Tahun ini, Imlek menandai masuknya Tahun Kuda Api, yang dimaknai sebagai simbol semangat, keberanian, dan kerja keras.
Bagi para perantau, Imlek bukan sekadar perayaan tradisi, tetapi juga menjadi momen kebersamaan. Hal tersebut disampaikan Kimlin saat diwawancarai pada Senin malam (16/02/2026).
Tidak semua perantau memiliki kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Karena itu, perayaan Imlek kerap dilakukan secara sederhana bersama teman-teman terdekat di tempat perantauan. Meski sederhana, kebersamaan tersebut tetap sarat makna.
Kimlin diketahui telah merantau di Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara sejak tahun 2019. Saat ini, ia menetap di Labuha dan tetap merasakan hangatnya suasana Imlek meski jauh dari keluarga.
“Biasanya setahun sekali bisa kumpul keluarga. Karena kami perantauan jauh, jadi kumpulnya dengan teman-teman di sini saja,” ujar Kimlin.
Ia menjelaskan bahwa Imlek juga menandai pergantian Tahun Baru dalam penanggalan Tionghoa yang terdiri dari siklus 12 bulan. Meski telah lama berada di perantauan, semangat menyambut Imlek tetap terjaga.
Harapan di Tahun Kuda Api pun diungkapkan dengan penuh optimisme. “Harapannya kemakmuran bersama dan kemajuan bagi semua. Walaupun kita berbeda-beda cara penyambutannya, tapi tujuan kita sama, mencari keberkahan,” katanya.
Kimlin juga berharap semangat Imlek dapat membawa kemajuan dan kesuksesan, tidak hanya bagi komunitas tertentu, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Perayaan Imlek tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan budaya dan tradisi, nilai kebersamaan, harapan, dan doa untuk masa depan yang lebih baik tetap menjadi tujuan bersama.(Red/Pandi)



















