Penyaluran bantuan sosial (bansos) di Desa Bala-Bala, Kabupaten Halmahera Selatan, menuai protes dari warga. Mereka menilai bantuan yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu justru diduga mengalir kepada perangkat desa, keluarga kepala desa, hingga warga yang dinilai telah mapan secara ekonomi.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku namanya sempat tercantum dalam pendataan awal sebagai calon penerima bansos. Namun, saat bantuan dibagikan, namanya tiba-tiba hilang dari daftar penerima.
“Nama saya ada waktu pendataan pertama. Tapi pas pembagian sudah tidak ada. Saya ingin tahu, siapa yang menghapus nama saya? Apakah kepala desa, pemerintah kabupaten, atau memang diganti dari pusat?” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar karena masih banyak warga miskin yang tidak memperoleh bantuan. Sebaliknya, ia mengklaim penerima bansos justru didominasi oleh orang-orang yang dianggap mampu, memiliki usaha, bahkan masih memiliki hubungan keluarga dengan kepala desa.
“Yang dapat bantuan malah orang yang punya usaha. Sebagian lagi keluarga kepala desa. Sementara warga yang benar-benar membutuhkan justru tidak dapat,” katanya.(29/06/2026)
Kekecewaan warga semakin bertambah ketika permintaannya untuk melihat daftar penerima bansos ditolak. Ia mengaku diberi alasan bahwa daftar lama sudah diganti dengan daftar penerima yang baru.
Tak hanya itu, saat mempertanyakan persoalan tersebut kepada salah seorang kepala urusan (Kaur) di pemerintah desa, ia mengaku mendapat jawaban bernada menantang.
“‘Kalau mau bikin masalah silakan, kami tidak takut,’ begitu jawaban yang saya terima,” ungkapnya.
Warga juga menduga proses penentuan penerima bansos tidak sepenuhnya dilakukan di tingkat desa. Dugaan itu muncul setelah, menurut pengakuannya, seorang perangkat desa menyebut seluruh pengaturan penerima berasal dari Dinas Sosial Kabupaten Halmahera Selatan. Meski demikian, hingga berita ini ditulis, belum ada bukti yang menguatkan tudingan tersebut dan Dinas Sosial Halsel juga belum memberikan keterangan resmi.
Sementara itu, Kepala Desa Bala-Bala, Baihaki Sabela, membantah adanya penyimpangan dalam penyaluran bansos. Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, ia menegaskan pembagian bantuan telah dilakukan sesuai prosedur berdasarkan daftar resmi penerima.
“Terkait bansos itu maksud kesalahannya di mana? Pembagian bansos saya kira sudah sesuai prosedur karena ada daftar nama-nama penerima,” kata Baihaki.
Menanggapi sorotan terkait Sekretaris Desa yang disebut menerima bansos, Baihaki menjelaskan bahwa penerima bantuan bukan Sekdes, melainkan istrinya yang namanya tercantum sebagai penerima dalam daftar resmi.
Terlepas dari klarifikasi tersebut, warga berharap pemerintah daerah dan instansi berwenang segera melakukan audit serta verifikasi ulang terhadap data penerima bansos di Desa Bala-Bala. Mereka meminta seluruh proses dibuka secara transparan agar bantuan sosial benar-benar diterima masyarakat yang berhak, bukan menimbulkan dugaan praktik pilih kasih maupun konflik kepentingan. (Red/Pandi)



















