Operasional Tambang PT TBP–PT GPS: 5.500 Hektare IUP, Produksi Terintegrasi hingga Pengolahan

Rabu, 19 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halsel — BacaPost.Com, Aktivitas pertambangan di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Trimegah Bagun Persada (TBP) dan PT Gane Permai Sentoso(GPS) berjalan secara terintegrasi, mulai dari proses penambangan hingga pengolahan bijih nikel.

Total luas IUP kedua perusahaan tersebut mencapai sekitar 5.500 hektare, dengan rincian 4.200 hektare milik PT TBP dan 1.200 hektare milik PT GPS. (19/11/2025)

Saat dilakukan peninjauan di lapangan, Dicky Setiawan, AMPE Superintendent PT TBP, mengungkapkan bahwa operasional tambang melibatkan sejumlah kontraktor. Untuk area PT GPS, kegiatan penambangan dikerjakan oleh PT Hastafan Caman Diri Utama (HPMU). Sementara itu, tiga kontraktor beroperasi di wilayah PT TBP, yakni Mitra Mineral Perkasa, Paramatunas Mining, dan Kudas Muda Pertiwi.

Baca Juga:  Polres Halmahera Selatan Klarifikasi Pemberitaan Dugaan Dua Tersangka PETI Melarikan Diri Ke Malaysia

Menurut Dicky, tahapan penambangan diawali dengan land clearing atau pembersihan vegetasi pada area yang telah direncanakan untuk ditambang. “Setelah land clearing, kami melakukan pengumpulan topsoil sebagai material penting untuk kebutuhan reklamasi,” ujarnya.

Topsoil yang dikumpulkan dipisahkan dan disimpan secara khusus. Tim reklamasi kemudian mengecek volume serta lokasi penyimpanan sebelum proses dilanjutkan. Setelah itu, penambangan berlanjut pada pengupasan overburden, yaitu tanah penutup yang selanjutnya digunakan untuk backfilling di area bekas tambang. Area yang telah ditimbun kembali kemudian dilapisi topsoil sebagai tahap awal reklamasi.

Dengan overburden yang sudah tersingkap, proses penambangan bijih nikel dilakukan. PT TBP dan PT GPS memproduksi dua jenis bijih nikel, yakni limonit (kadar rendah) dan saprolit (kadar tinggi). Produk limonit disuplai ke dua smelter, yaitu HPL dan ONC, untuk diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)—bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.

Baca Juga:  Kapolda Malut Tunjuk AKBP Muhammad Musni Sebagai Plt Kapolres Halbar

Adapun bijih saprolit dikirim ke beberapa smelter, yaitu MSP (Omega Surya Pertiwi), HGF (Halmahera Jaya Feronikel), dan KPS (Karya Perme Sentosa). Smelter KPS sendiri direncanakan memiliki 12 line produksi, namun hingga kini baru sekitar 8 line yang beroperasi, sementara 4 line lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Pasca penambangan, bijih nikel diangkut ke stockpile untuk dipisahkan antara limonit dan saprolit. Masing-masing tim smelter kemudian mengambil material sesuai kebutuhan dan spesifikasi proses produksi mereka.

Selain proses produksi, perusahaan juga memperhatikan aspek lingkungan. Pembukaan lahan berpotensi memunculkan area terbuka dan limpasan air, sehingga pengendalian lingkungan dilakukan sejak awal. Area yang telah di-backfill dan dilapisi topsoil langsung disiapkan untuk penanaman kembali. Sebagian lokasi operasional yang digunakan saat ini bahkan berasal dari lahan reklamasi hasil backfilling.

Baca Juga:  Pemuda Desa Lola Soroti Audit Keuangan Tanpa Keterlibatan BPKP

“Penanaman kembali kami lakukan secara berkelanjutan sebagai komitmen untuk memulihkan kondisi lahan pascatambang,” tutup Dicky.

(Red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Barisan Muda Makayoa Halsel Tolak Pembentukan Panitia Musyawarah Ke-III Di Ternate 
Pekan Depan Jailolo Street Coffee Bakal Hadir, GENPI Halbar Dorong Wajah Baru Pusat Kota
Warga Minta Bupati Halsel Dan Kadis DPMD Berkantor Di Kantor Desa Laigoma
Tak Perlu Lagi Berobat Jauh, Kehadiran Pustu Soligi dan Kawasi Dekatkan Akses Medis Warga Obi 
Diduga Tak Mampu Selesaikan Polemik, Iksan Kaleserang Pilih Laporkan Tiga Wartawan Anggota PWI
Sekdes Kusubibi Diduga Terseret Kasus TPPU, Polres dan Kejari Halsel Diminta Turun Tangan
Pemda Halsel Alokasikan Bansos Untuk Masyarakat Kurang Mampu Dan Biaya Akhir Studi Mahasiswa 
Kepala Desa Laigoma Samsul Marwa Diduga Jarang Berkantor, Warga Palang Kantor Desa

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:57

Barisan Muda Makayoa Halsel Tolak Pembentukan Panitia Musyawarah Ke-III Di Ternate 

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:39

Pekan Depan Jailolo Street Coffee Bakal Hadir, GENPI Halbar Dorong Wajah Baru Pusat Kota

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:56

Warga Minta Bupati Halsel Dan Kadis DPMD Berkantor Di Kantor Desa Laigoma

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:53

Tak Perlu Lagi Berobat Jauh, Kehadiran Pustu Soligi dan Kawasi Dekatkan Akses Medis Warga Obi 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:20

Diduga Tak Mampu Selesaikan Polemik, Iksan Kaleserang Pilih Laporkan Tiga Wartawan Anggota PWI

Berita Terbaru