Semangat gotong royong ditunjukkan masyarakat Desa Gufasa, Gamlamo, dan Desa Jalan Baru, kecamatan Jailolo, kabupaten Halmahera Barat dalam membersihkan kawasan Mata Air Sofinga di Desa Gufasa.
Bakti Sosial tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan hajatan doa dan ritual 11 hari orang meninggal yang dikenal dengan sebutan Hoi Gunyihi Se Parasi.
Kepala Desa Gufasa, Muhammad Dahri Takome dalam keterangan tertulisnya mengatakan, warga dari ketiga desa bersama-sama membersihkan lingkungan di sekitar mata air yang selama ini menjadi salah satu lokasi penting bagi kegiatan adat dan keagamaan masyarakat setempat.
“Bagi masyarakat sekitar, Air Sofinga tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan keagamaan. Karena itu, kebersihan kawasan tersebut menjadi perhatian bersama, terutama menjelang pelaksanaan ritual,” kata Dahri, (04/10/2026).
Dahri mengungkapkan, dalam proses pembersihan, warga menghadapi kendala berupa endapan lumpur yang cukup tebal di sekitar kawasan perairan.
“Kondisi ini menyebabkan pendangkalan sehingga pengerjaan secara manual menggunakan cangkul dan peralatan sederhana dinilai tidak lagi efektif untuk mengangkut seluruh material lumpur,” ungkapnya.
Ia menuturkan, dukungan alat berat jenis excavator yang disiagakan oleh Wakil Ketua DPRD Halmahera Barat, Rustam Fabanyo, turut membantu dalam proses pembersihan.
“Kendalanya disitu, sehingga kami coba melakukan koordinasi ke Pak Utam dan alhamdulillah alat berat tersebut membantu warga mempercepat proses pengerukan dan pembersihan lumpur yang mengendap di sekitar Mata Air Sofinga,” tuturnya.
Pihaknya juga turut memberikan apresiasi dari Pemerintah Desa Gufasa dan masyarakat dari tiga desa yang terlibat dalam kegiatan gotong royong.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Rustam Fabanyo atas kepeduliannya menyiagakan excavator di lokasi, selain mengerahkan alat berat, beliau juga turun langsung membantu pekerjaan kami. Bantuan ini sangat meringankan beban warga sehingga proses pengerukan lumpur di mata air Sofinga dapat berjalan cepat dan lancar,” ujar Dahri.

Sementara itu, Rustam Fabanyo, saat diwawancarai terpisah menjelaskan, kegiatan pembersihan tersebut bukan hanya untuk kepentingan pelaksanaan ritual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan dan keberlangsungan sumber air yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
“Tradisi Hoi Gunyihi Se Parasi sendiri merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat yang memadukan nilai religius, penghormatan terhadap keluarga yang telah meninggal dunia, serta kepedulian terhadap lingkungan,” jelas RF sapaan akrabnya.
Lebih jauh, Politisi Partai Nasdem itu menambahkan, kawasan tersebut selain dikenal sebagai tempat sakral, air Sofinga juga dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air bersih.
“Sebelum ada Jaringan Air PDAM, mata air ake Sofinga ini juga merupakan sumber air bersih yang dikonsumsi masyarakat Desa Gufasa, Gamlamo dan Jalan Baru. Bahkan sebagian masyarakat Desa Guaemaadu pun mengonsumsi mata air di Ake Sofinga,” tambahnya.
Mantan Ketua APDESI Halbar itu berharap, melalui kegiatan gotong royong tersebut, masyarakat berharap kawasan Mata Air Sofinga tetap terjaga kebersihannya dan dapat terus dimanfaatkan secara bersama-sama.
“Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemeliharaan lingkungan dan pelestarian nilai-nilai budaya dapat dilakukan melalui semangat kebersamaan masyarakat,” pungkasnya. (Red/Agus)


















