Halsel — Janji Pemerintah Desa (Pemdes) Jojame kembali dipertanyakan. Sebanyak 97 rumah warga di Desa Jojame, Kecamatan Bacan Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, kini terancam kehilangan pasokan listrik akibat tunggakan pembayaran yang tak kunjung diselesaikan.
Ancaman pemutusan listrik itu muncul setelah pihak rekanan menyatakan akan memutus seluruh meteran listrik karena Pemdes Jojame menunggak pembayaran hingga Rp192.500.000. Kondisi ini membuat warga berada di ujung kegelapan, meski persoalan bermula dari kebijakan dan kesepakatan pemerintah desa sendiri.
Merespons persoalan tersebut, Komisi I DPRD Halmahera Selatan menjadwalkan pemanggilan pejabat Kepala Desa Jojame pada Kamis (29/1/2026). Pemanggilan ini dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban langsung atas tunggakan yang kini dibebankan kepada masyarakat.
Ketua Komisi I DPRD Halsel, Munawir Hi. Bahar, menegaskan bahwa DPRD tidak akan tinggal diam melihat warga menjadi korban kelalaian pemerintah desa.
“Kami sudah menyiapkan surat pemanggilan pejabat Kepala Desa Jojame besok pukul 10.00 WIT. Pihak rekanan juga akan kami mintai keterangan untuk membuka secara terang dan utuh kronologi persoalan ini,” tegas Munawir.
Diketahui, masalah ini berakar dari perjanjian kerja sama tahun 2023 antara Pemdes Jojame dan pihak rekanan, Fahmi Bin Usman, yang disepakati melalui Musyawarah Desa (Musdes). Dalam kontrak bernilai Rp378.650.000 itu, Pemdes berkomitmen melakukan pembayaran secara bertahap hingga 2026.
Namun, komitmen tersebut hanya berhenti di atas kertas. Hingga kini, pembayaran tak pernah direalisasikan, menyebabkan tunggakan membengkak dan menyeret 97 rumah warga ke dalam ancaman pemutusan listrik.
Fahmi mengungkapkan, seluruh biaya pemasangan meteran dan instalasi listrik ditalangi menggunakan dana pribadinya. Berbagai upaya penagihan telah ditempuh, mulai dari pendekatan persuasif hingga melaporkan persoalan ini ke Polres Halmahera Selatan.
“Pihak desa sempat berjanji akan menyelesaikan pembayaran dalam lima hari. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi sama sekali,” ungkap Fahmi.
Karena tidak adanya itikad baik dari Pemdes Jojame, pihak rekanan mengaku terpaksa mengambil langkah tegas dengan memutus pasokan listrik.
“Ini langkah terakhir. Kami juga dirugikan,” pungkasnya. (Red/Pandi)


















